Arsip Tag: kompos

CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK BOKASHI – HCS


Bokashi HCSPupuk Bokashi, dari namanya saja sepintas orang kebanyakan tidak akan mengenal, pupuk apaan lagi ini ? Namanya aneh…

Pupuk Bokashi, ga tau siapa yang pertama memberikan nama seperti ini. Dilihat dari namanya, mungkin orang Jepang yang ngasih nama karena mungkin teknologi awal-nya  dari sana mulai diperkenalkan.

Pengertian yang berhasil penulis himpun dari sono-sini, Pupuk Bokashi kurang lebih dapat diartikan sebagai (ini pun kata orang Jepang) : “Bahan Organik yang telah difermentasikan”. Berarti Bokashi adalah hasil fermentasi atau peragian bahan-bahan organik seperti sekam, serbuk gergaji, jerami, kotoran hewan atau pupuk kandang, dan lain-lain bahan organik.  Bahan-bahan tersebut difermentasi dengan bantuan microorganism activator untuk mempercepat prosesnya. Ada pula yang mengartikan bahwa BOKASHI adalah kependekan dari Bahan Organik Kaya Sumber Hayati.  Hehehe….silahkan pilih, pengertian mana yang anda sukai.

Dalam pembuatan Pupuk Bokashi pola HCS, SOT HCS digunakan sebagai aktivator. Efek lain dari sistem pupuk bokashi ini adalah bahwa hasil fermentasi tidak se-bau cara konvensional misalnya pada pupuk kompos. Proses pembuatan pupuk bokashi juga relatif lebih cepat dibandingkan pupuk kompos.

Pupuk organik atau Pupuk Bokashi ala HCS, selain proses pembuatannya cepat, hasil tidak terlalu bau, juga dapat menekan timbulnya jamur atau fungi dan gulma setelah selesai proses pembuatan pupuk, seperti yang timbul pada sistem Bokashi biasa.

Oke, cukup ya pengantarnya…..kita langsung saja ke praktek cara pembuatan pupuk Bokashi HCS, simak ya baik-baik :

Baca lebih lanjut

Iklan

PERTANIAN BERKELANJUTAN


pertanian organikMasih seputar dunia Pertanian Indonesia…….

Pertanian, sudah merupakan budaya di banyak negara termasuk Indonesia. Budaya yang sudah lahir sejak jaman dahulu. Dimana pada masa tersebut, leluhur kita, kakek nenek moyang kita melakukan kegiatan pertanian yang terutama dilatarbelakangi oleh tuntutan kehidupan dasar tanpa berorientasi untuk kepentingan ekonomi semata (misalnya menjual hasil pertanian).  Mereka pun bertani dan menghasilkan berbagai produk pertanian seperti padi, sayuran dan hewan ternak dari lahan sendiri tanpa ada ketergantungan terhadap produk luar seperti pupuk kimia, pestisida, herbisida maupun bibit unggul. Mereka mampu memadukan dan ‘meng-harmonisasi’ hubungan antara manusia dan lingkungan alam tanpa saling merusak. Mereka pun mampu mencukupi segala kebutuhan sosial dari kelebihan hasil pertaniannya.

Revolusi Hijau

Atas nama kepentingan yang cenderung ke orientasi keuntungan ekonomis, kemudian dicanangkanlah revolusi hijau dengan ditandai hadirnya sistem intensifikasi pertanian, panca usaha tani , pemakaian pupuk kimia sintetis dan obat-obat kimia lainnya. Pada beberapa saat, Revolusi hijau di Indonesia berhasil membuat Indonesia menyandang predikat Swasembada Pangan.

Pada kenyataannya, program tersebut menimbulkan berbagai implikasi negatif :

  1. Pemakaian pupuk kimia dan bahan-bahan kimia sintetis secara berlebihan menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, mulai dari tanah, air, udara dan makhluk hidup. Terjadi kerusakan struktur tanah dan musnahnya predator alami sehingga meningkatnya populasi hama dan gulma karena lebih resisten terhadap pestisida.
  2. Para petani sangat tergantung kepada pupuk kimia seperti pupuk urea atau NPK dan bahan-bahan kimia sintetis lainnya. Mereka menjadi tidak PEDE… bertani tanpa obat-obatan tersebut.
  3. Ketergantungan para petani terhadap bahan-bahan kimia menimbulkan dominasi dan monopoli pihak-pihak yang berkantung tebal dalam penyediaan dan distribusi. Merekalah yang lebih diuntungkan dibandingkan para petaninya sendiri.
  4. Timbul kesenjangan lebih jauh antara petani berduit dan petani kurang berduit. Petani yang punya modal lebih besar akan lebih beruntung karena harga pupuk dan obat tidak menjadi masalah besar, berbeda dengan petani kecil yang untuk membeli ikan asin saja ‘ngos-ngosan’…

Pengertian Pertanian Organik

Pertanian organik sebenarnya bukan hal baru atau nge-trend dengan tiba-tiba karena Presiden kita mencanangkannya.  Namun jauuuh… sebelum sistem pertanian konvensional seperti kebanyakan sekarang berjalan, para petani jagoan kita dahulu sudah menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan dengan menerapkan ilmu atau sistem pertanian dengan cara-cara yang arif. Sepintas seperti kuno atau tradisional, namun sangat-sangat bernilai tinggi. Mereka telah terbiasa menggunakan pupuk kandang, kompos di ladang maupun sawah, serta penggunaan ramuan-ramuan nabati untuk mengusir hama, memiliki cara menyeleksi bibit dan cara penyimpanannya. Mereka pun hapal betul bagaimana mengatur masa tanam dan variasi tanaman untuk menyiasati hama-hama pengganggu.

Kembali ke laptop,…secara teori, pertanian organik dapat diartikan sebagai suatu sistem produksi pertanaman yang berasaskan daur ulang secara hayati.  Daur ulang unsur hara dapat melalui sarana limbah tanaman dan ternak, serta limbah lainnya yang mampu memperbaiki status kesuburan dan struktur tanah (Rachman, 2002:1).

Adapun filosofi yang melandasi pertanian organik adalah mengembangkan prinsip-prinsip memberi makanan pada tanah yang selanjutnya tanah menyediakan makanan untuk tanaman (istilah bule-nya : feeding the soil that feeds the plants), dan bukan memberi makanan langsung tanaman. Ahli pertanian bule, Von Uexkull (1984) memberi istilah ‘membangun kesuburan tanah’. Strateginya adalah memindahkan hara secepatnya dari sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang nantinya setelah mengalami mineralisasi akan menjadi hara dalam larutan tanah. Dengan kata lain, unsur hara didaur ulang melalui satu atau lebih tahapan bentuk senyawa organik sebelum akhirnya dimakan, eh diserap oleh tanaman. Berdasarkan hal ini timbul istilah pupuk organik.

Ciri-ciri Pertanian Organik

Menurut beberapa ahli-nya pertanian, berikut adalah beberapa ciri dari pertanian organik :

  1. Melindungi kesuburan tanah dengan mempertahankan kadar bahan organik, dan tidak menggunakan alat-alat mekanisasi secara sembarangan.
  2. Menyediakan sendiri unsur Nitrogen melalui pengikatan Nitrogen secara biologis.
  3. Melakukan daur ulang secara effektif bahan organik dari sisa tanaman maupun limbah ternak.
  4. Membantu perkembangan aktivitas biologi tanah
  5. Mengendalikan gulma dan hama penyakit dengan rotasi tanaman, pemanfaatan predator dan penggunaan varietas yang lebih tahan.
  6. Memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi secara berkesinambungan
  7. Dalam seluruh kegiatannya, aspek alamiah dan kondisi lingkungan sekitar merupakan sumber penunjang produksi pertanian yang utama.
  8. Mengurangi bahkan meniadakan penggunaan bahan penunjang dari luar, seperti pupuk kimia.
  9. Mendaur ulang nutrisi atau unsur hara dalam tanah

Pengertian Pertanian Berkelanjutan

Sistem Pertanian Berkelanjutan adalah suatu sistem pertanian yang tidak merusak, tidak mengubah, serasi, selaras, dan seimbang dengan lingkungan atau sistem pertanian yang patuh dan tunduk terhadap aturan-aturan alamiah. Sebenarnya sistem tersebut merupakan suatu ‘remain’, mengingatkan kembali pada pola back to nature, yang sudah pernah dilakukan oleh kakek nenek buyut kita.

Segala upaya manusia yang mengingkari kaidah-kaidah hubungan suatu ekosistem dalam jangka pendek mungkin mampu memacu produktivitas lahan dan hasil. Namun dalam jangka panjang biasanya hanya akan berakhir dengan rusak dan hancurnya lingkungan. Kita yakin betul bahwa hukum alam adalah kuasa Tuhan. Manusia sebagai umat-Nya hanya berwenang menikmati dan berkewajiban menjaga dan melestarikannya (Karwan, 2003:1).

Konsep dari Pertanian Berkelanjutan terus berkembang, diperkaya dan dipertajam dengan kajian pemikiran, model, metode, dan teori-teori dari berbagai disiplin ilmu sehingga menjadi suatu kajian ilmu terapan yang ditujukan bagi kemaslahatan umat manusia sekarang dan pada masa yang akan datang. Konsep ini juga bersifat holistik, menyeluruh, dengan mempertemukan berbagai aspek dan disiplin keilmuan lain yang sudah mapan seperti, ekologi, sosial, ekonomi dan kelembagaan.

Ciri-ciri Pertanian Berkelanjutan

Berdasarkan referensi dari Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC-CGAR, 1988), CGIAR (Consultative Group on International Agricultural Research) atau Lembaga Konsultasi Penelitian Pertanian Internasional, Pertanian Berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah, sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.  Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

  1. Mantap secara ekologis, berarti kualitas sumber daya alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan mulai dari manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah ditingkatkan. Berarti tanah harus dikelola dan kesehatan tanaman dan hewan serta masyarakat dipertahankan melalui proses biologis. Sumber daya lokal digunakan secara ramah dan dapat diperbaharui.
  2. Dapat berlanjut secara ekonomis.
  3. Adil, yang berarti sumber daya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga keperluan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi dan begitu pula hak mereka dalam penggunaan lahan dan modal yang memadai serta bantuan teknis yang terjamin.
  4. Manusiawi, menghargai martabat dasar semua makhluk hidup dan menghargai budaya lokal.
  5. Luwes, masyarakat memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri (mampu beradaptasi) dengan perubahan kondisi usaha pertanian.
  6. Secara ekonomi menguntungkan dan dapat dipertanggung jawabkan. Para petani mampu menghasilkan keuntungan dalam tingkat produksi yang cukup dan stabil, pada tingkat resiko yang masih bisa ditolelir/diterima.
  7. Berkeadilan sosial, ini yang sering mendapat hambatan, sistem ini harus menjamin terjadinya keadilan dalam akses dan kontrol terhadap lahan, modal, informasi dan pasar bagi yang terlibat, tanpa membedakan status sosial, ekonomi, jenis kelamin, agama, maupun etnis.

Keberhasilan penerapan Pertanian Organik menuju Pertanian Berkelanjutan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan semua pihak. Sistem ini tidak akan berhasil tanpa keterlibatan pemerintah, institusi, pihak swasta, para pakar, akademisi, para petani dan anda sendiri.

Peranan HCS

Berdasarkan paparan singkat di atas, jelas bahwa PT HCS melalui pola HCS-nya mendukung dan melibatkan diri secara langsung dalam praktek pertanian organik untuk mewujudkan Pertanian yang berkelanjutan.

Sekarang saatnya bagi anda rekan semua, buktikan dan berikan kontribusi yang positif bagi seluruh masyarakat Indonesia melalui HCS. Diam dan menonton saja tidak akan mendatangkan kesuksesan dan kemajuan bagi diri sendiri apalagi masyarakat umum. Saatnya sekarang anda bergabung menjadi Mitra HCS !!

….diaransemen dari berbagai sumber