JENIS-JENIS PUPUK DAN APLIKASINYA (Bagian 2)


Tulisan berikut adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya dengan judul yang sama, Jenis-jenis Pupuk dan Aplikasinya (Bagian 1), tulisan sebagian besar bersumber dari buku : Chairani Hanum dkk, Teknik Budidaya Tanaman Jilid 1, Departemen Pendidikan Nasional, 2008 yang saya pikir sangat bagus juga untuk dibagi di sini, materi lainnya saya ambil juga dari beberapa sumber untuk melengkapi….

Pembahasan berikut sebagian besar tentang seputar Pupuk Buatan, konsumsi jenis pupuk ini masih mendominasi dan alangkah baiknya agar dalam penggunaannya tepat, kita mengetahui dasar, cara pakai dan potensi bahayanya.

Pupuk Buatan

Seperti yang disebutkan pada tulisan sebelumnya, pupuk buatan adalah pupuk yang mengandung unsur hara tertentu dan pada umumnya mengandung unsur hara yang tinggi

Sifat umum pupuk buatan

Nilai suatu pupuk buatan ditentukan oleh sifat-sifatnya.

Penilaian terhadap suatu  pupuk buatan dapat diketahui berdasarkan : kadar unsur yang terkandung dalam pupuk, kelarutan pupuk, keasaman pupuk, sifat higroskopisitas, cara bekerjanya pupuk, dan indeks garam

Kadar unsur pupuk

Faktor ini merupakan penentu yang utama untuk menilai suatu pupuk karena jumlah unsur hara secara otomatis akan menentukan kemampuan pupuk menaikkan kandungan hara tanah

Kadar unsur hara pupuk dinyatakan dalam % (persen) N, % P2O5, dan % K2O. Misalnya tertulis pupuk urea 45%, artinya dalam setiap 100 kg pupuk urea tersebut mengandung 45 kg N

Kelarutan Pupuk

Faktor ini dinilai berdasarkan kecepatan dan mudah tidaknya suatu pupuk larut dalam air dan diserap oleh akar tanaman.  Sifat kelarutan ini perlu diketahui untuk : menentukan atau memilih metode pemupukan, waktu aplikasi pupuk, jenis pupuk dan untuk jenis tanaman apa.

Misalnya pupuk yang mudah larut dapat digunakan pada saat tanam atau setelah tanaman tumbuh, dan pupuk jenis ini cocok untuk jenis tanaman semusim.

Untuk jenis pupuk yang tidak mudah larut, aplikasinya dapat disebar pada waktu sebelum tanam dan sesuai untuk jenis tanaman tahunan.

Keasaman Pupuk

Sifat ini berkaitan dengan kondisi pH (keasaman) suatu pupuk. Pupuk yang diaplikasikan dapat bersifat asam (pH asam), basa (pH alkali), atau netral.

Sifat keasaman pupuk dinyatakan dengan nilai ekuivalen keasaman, artinya berapa jumlah (dalam kg) kapur (CaCO3) yang diperlukan untuk menetralkan keasaman yang disebabkan oleh penggunaan 100 kg suatu jenis pupuk.  Misalnya pupuk ZA dengan ekuivalen keasaman 110, artinya untuk menetralkan keasaman yang disebabkan oleh penggunaan 100 kg pupuk ZA diperlukan penambahan kapur sebesar 110 kg.

Sifat keasaman pupuk perlu diketahui sehingga kita akan menggunakan pupuk yang bersifat asam untuk tanah yang bersifat basa, dan sebaliknya.

Higroskopisitas pupuk

Higroskopisitas adalah sifat mudah tidaknya suatu pupuk bereaksi dengan uap air.

Pupuk yang bersifat higroskopis kurang baik, karena mudah menjadi basah akibat menyerap air.  Pada kondisi kelembaban rendah pupuk ini dapat berubah kembali kering, namun biasanya menjadi bongkahan yang keras.

Untuk mengurangi higoskopisitas ini, maka pupuk dibuat dalam bentuk butiran dengan tujuan mengurangi luas permukaan yang bersentuhan dengan uap air.

Cara bekerjanya pupuk

Bekerjanya pupuk adalah waktu yang diperlukan sejak saat pemberian awal pupuk sampai pupuk tersebut dapat terserap oleh tanaman.

Indeks garam

Pemberian pupuk ke dalam tanah dapat mengakibatkan naiknya konsentrasi garam dalam tanah.  Indeks garam adalah gambaran perbandingan kenaikan tekanan osmosis akibat penambahan 100 gr pupuk dengan kenaikan tekanan osmosis karena penambahan 100 gr NaNO3.

Sifat ini penting diketahui untuk menentukan penempatan pupuk yang tepat

Selanjutnya kita coba ulas secara singkat  mengenai beberapa jenis pupuk buatan yang mengandung unsur hara makro.

Pupuk Nitrogen

Pupuk Nitrogen memiliki sifat mudah tercuci terbawa air hujan, cepat mengurai dan menguap.  Pupuk Nitrogen dapat dibedakan menjadi bentuk organik dan anorganik

Bentuk Organik

Yaitu berupa pupuk organik seperti sampah, sisa ikan, ampas jarak, dan sebagainya. Namun agar nitrogennya menjadi mudah diserap tanaman, harus mengalami dulu aminisasi, amonifikasi, dan nitrifikasi (lihat tabel di bawah).

Oleh karena itu, bahan-bahan organik tidak seefektif nitrogen dalam bentuk NaN2, NaNO3 atau (NH4)2SO4.  Respon tanaman pun cenderung lambat apalagi bila kondisi tanah tidak mendukung proses dekomposisi.  Agar menjadi effektif dan mempercepat dekomposisi, maka decomposer diperlukan, seperti yang terdapat dalam SOT HCS.

TABEL : PEMBAWA NITROGEN ORGANIK

PUPUK SUMBER % NITROGEN
Darah kering Tempat pemotongan 8-12
Sisa-sisa daging Tempat pemotongan 5-10 (3-13% P2O5)
Tepung daging Tempat pemotongan 10-11 (1-5% P2O5)
Sisa ikan kering Pengalengan dan ikan yang tidak dapat dikonsumsi 6-10 (4-8% P2O5)
Tepung biji kapas Ampas 6-9 (2-3% P2O5 dan 1-2% K2O)
Batang tembakau Sisa 1,5-3,5  (4-5% K2O)
Tepung jarak Ampas 5-7 (2% P2O5 )
Tepung coklat Ampas 3,5-4,5

Bentuk Anorganik

Bentuk pupuk nitrogen lain terdapat dalam bentuk anorganik. Bentuk anorganik lebih banyak digunakan karena jumlah gas nitrogen di udara sudah tersedia dengan ditunjang oleh teknologi pembuatan pupuk N yang sudah semakin maju dan murah.  Selain itu, cara pembuatan yang dipakai sekarang memungkinkan dihasilkannya berbagai macam bahan dalam jumlah relative banyak, sehingga aplikasinya lebih praktis.

Akibat dari hal tersebut di atas, pembawa N sintetik atau  buatan makin lama makin memegang peranan yang cukup penting. Hampir seluruh keperluan pupuk N di Indonesia berasal dari pembawa nitrogen anorganik ini.  Lihat tabel di bawah berikut :

TABEL PEMBAWA NITROGEN ANORGANIK

PUPUK RUMUS KIMIA SUMBER % NITROGEN
Natrium nitrat NaNO3 Saltpeter Cilia tau dibuat 16
Ammonium sulfat/ZA (NH4)2SO4 Hasil sampingan arang dan gas 21
Ammonium nitrat NH4NO3 dibuat 33
Urea CO(NH2)2 dibuat 42-45
Kalsium sianamida CaCN2 dibuat 22
Amonia cair NH3 cair dibuat 82
Larutan amonia NH4OH encer dibuat 20-25
Amofos NH4.H2PO4 dibuat 11 (48% P2O5)
Diamonium fosfat (NH4)2HPO4 dibuat 21 (53% P2O5)

Amonium nitrat

Amonium nitrat merupakan pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan setelah perang dunia ke-2.  Pupuk ini dihasilkan dari reaksi antara asam nitrit deengan senyawa ammonia anhydrous.  Pupuk ini dapat menyumbangkan dua jenis hara N, dalam bentuk ammonium (NH4+) dan nitrat (NO3).

Produk di pasaran dari pupuk ini terdapat dalam bentuk padat, granular, larutan dan kapsul.  Bentuk pupuk ini padat dan kristalin, berwarna putih, tidak higroskopis dan bekerjanya cepat.

Amonium sulfat

Dikenal dengan nama pupuk ZA (zwavelzure ammoniak – Belanda red).  Pada umumnya mengandung 21 % nitrogen dan 24% belerang.  Terbentuk dari reaksi antara ammonia dengan asalam sulfat

Urea

Pupuk ini merupakan salah satu pupuk N yang paling tinggi kandungan nitrogennya.  Selain sebagai pupuk, urea juga sering digunakan sebagai pengganti protein dari hewan ruminansia.

Penggunaan pupuk urea biasanya dalam bentuk konsentrat atau granular.  Kandungan nitrogennya berkisar 45%.  Bersifat sangat higroskopis dibandingkan pupuk nitrogen lainnya, sehingga aplikasinya sering dilakukan dalam 3 tahap.  Dan karena sifatnya tersebut, penggabungan dan penyimpanan dengan pupuk lainnya perlu diperhatikan secara khusus.

Bersambung…………

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s