Peluang Usaha Ternak Lele dengan Kolam Terpal (seri Ternak Lele – bag.2)


Usaha ternak atau budidaya ikan lele memang masih menjadi daya tarik dan banyak diminati masyarakat Indonesia. contoh kolam terpal ikan leleSeperti pada tulisan saya sebelumnya Peluang Usaha dan Teknik Budidaya Ikan Lele yang Menguntungkan , budidaya ikan lele selain memiliki nilai ekonomis, juga relatif lebih mudah dan murah dalam teknik budidayanya.

Naah,…salah satu dari beberapa kemudahan teknik budidaya ikan lele ini adalah sifatnya yang tidak memerlukan persyaratan khusus tempat atau kolam pemeliharaan. Berangkat dari hal tersebut, maka berkembanglah sistem budidaya ikan lele dalam kolam menggunakan terpal.  Mari kita analisa keunggulan dan peluang usaha ternak lele dengan sistem kolam terpal tersebut…

Keunggulan Kolam Terpal dalam Budidaya Lele

Berikut adalah beberapa keuntungan dari teknik budidaya ikan lele dengan menggunakan kolam terpal

1. Menambah Peluang Baru Budidaya di Lahan yang Terbatas

Pada awalnya, budidaya ikan lele banyak dilakukan di kolam-kolam konvensional seperti kolam tanah, kolam tembok, kolam beton, atau bahkan di kolam yang terbuat dari fiber glass. Namun seiring makin berkembangnya teknik budidaya, maka berkembang teknik budidaya lele dengan memanfaatkan terpal, atau dikenal dengan nama kolam terpal.

Kolam terpal sebagai tempat budidaya lele awalnya banyak berkembang di daerah Pantura Jawa Barat sebelum akhirnya berkembang menyebar ke daerah lainnya termasuk ke luar Pulau Jawa.

Pada perkembangan selanjutnya, teknik kolam terpal ini malah disukai oleh masyarakat perkotaan, teknik ini sangat disukai karena cocok dilakukan tanpa memerlukan lahan yang luas, bahkan bila perlu lahan bekas garasi mobil saja bisa dimanfaatkan, atau pekarangan sempit di belakang rumah.

2. Teknik Praktis namun Memiliki Tingkat Keberhasilan Tinggi

  • Proses pembuatan kolam terpal tergolong sangat praktis dan mudah.  Pengerjaan pembuatannya mungkin hanya dibutuhkan beberapa jam saja.  Jauh berbeda dengan misalnya kalau kita mempersiapkan kolam tanah atau kolam tembok, waah…hitungannya berhari-hari.contoh kolam terpal lele
  • Waktu produksi lebih cepat.  Kolam terpal setelah panen hanya cukup dibersihkan dan diisi air baru.  Berbeda dengan kolam konvensional yang perlu waktu kurang lebih seminggu agar bisa digunakan kembali, mengingat tanah harus diolah, dijemur, dan dikeringkan.
  • Pemakaian air lebih irit
  • Berdasarkan beberapa hasil penelitian (menurut para ahli..lho), tingkat kelangsungan hidup atau SR (survival rate) lele yang dipelihara dalam kolam terpal dapat mencapai 80%, ini lebih tinggi dibandingkan bila di kolam konvensional yang hanya 50-60%.
  • Posisi kolam terpal bisa dipindah
  • Kolam terpal apabila tidak dipakai bisa dilipat untuk digunakan kembali lain waktu.

3. Cocok untuk Kawasan atau Daerah yang Kritis Air

Teknik ini memungkinkan budidaya dapat dilakukan pada daerah yang supplai airnya kurang atau jauh.  Teknik ini tidak memerlukan air yang mengalir dan dapat mengurangi resiko kebocoran-kebocoran air seperti yang biasa terjadi pada kolam konvensional.

4. Keuntungan Teknis dan Finansial

  • Secara teknis, banyak kemudahan dengan budidaya menggunakan kolam terpal.  Mulai dari teknis pembuatan, pemeliharaan sampai ke tahap pasca panen relatif lebih mudah dibandingkan kolam konvensional.
  • Pencegahan dan pengendalian hama maupun penyakit lebih mudah sehingga persentase SR lebih tinggi dibandingkan pada kolam biasa.
  • Hal tersebut tentu saja akan berkorelasi dengan biaya yang harus kita keluarkan.  Biaya yang harus dikeluarkan, secara sederhana apabila kita bandingkan akan jauh lebih murah dibandingkan kolam tembok atau tanah.

5. Kualitas Produk lebih Diminati

Hasil budidaya lele dalam kolam terpal akan menghasilkan ikan lele yang tidak berbau ‘lumpur’, yang mana bau lumpur tersebut biasanya dihasilkan dari budidaya lele dengan kolam tanah atau tembok.  ‘Bau lumpur’ ini rata-rata ternyata menurunkan selera makan para konsumen, sehingga rasa asli ikan lele yang gurih pun tidak dapat dinikmati.

Pembuatan Kolam Terpal

Pada prakteknya, terdapat dua jenis kolam terpal berdasarkan tempat dimana pembuatan dan penyimpanan kolam terpal dilakukan.  Kolam terpal jenis pertama adalah kolam terpal yang ditanam di dalam tanah dan jenis ke-dua kolam terpal yang dibuat di atas permukaan tanah.

1. Kolam Terpal dalam Tanah

Kolam terpal dalam tanah dibuat dengan cara menggali tanah berbentuk persegi seperti akan membuat kolam tanah dengan kedalaman biasanya 50 cm. Kemudian terpal dimasukkan mengikuti ukuran kolam yang sudah dibuat.  Tanah bekas galian dimasukkan karung untuk dijadikan tanggul di bibir kolam.

Kelebihan dari kolam terpal jenis ini adalah suhu air di dalam kolam dapat lebih stabil terhadap pengaruh suhu udara.  Kekurangannya adalah kolam ini tidak portable atau knock down serta tidak mungkin berpindah-pindah…hehe

2. Kolam Terpal di atas Permukaan

Jenis kolam terpal ini yang paling banyak digunakan.  Selain praktis, juga sangat fleksibel.  Jenis kolam terpal ini mungkin yang paling banyak diaplikasikan.  Cara pembuatannya secara garis besar adalah sebagai berikut :

Bahan-bahan yang dibutuhkan :

a. Terpal Plastik

Banyak jenis terpal yang beredar, pada umumnya yang dipakai adalah terpal plastik yang biasa digunakan untuk atap tenda.  Pada pemilihan jenis terpal ini tidak ada syarat khusus, yang penting terpal memiliki ketebalan dan kekuatan yang memadai untuk menahan tekanan air dan tidak terlalu mudah sobek.  Pintar-pintar memilih, karena ketebalan terpal plastik cukup bervariasi pula, dan ini sangat berhubungan erat dengan kekuatan dan ketahanan terpal.  Anda tidak mungkin mau kan…bila setiap selesai panen harus selalu ganti terpal.

Perhatikan dan hitung kebutuhan ukuran luas terpal yang akan digunakan. Pertimbangannya adalah ukuran terpal plastik siap pakai yang ada di pasaran terdapat beberapa ukuran, mulai dari 4 x 6 meter sampai ada yang berukuran 6 x 10 meter.  Ukuran terpal plastik di setiap daerah mungkin sedikit berbeda-beda.  Beberapa jasa konveksi ada pula yang menyediakan terpal plastik dengan ukuran sesuai permintaan, namun tentunya akan lebih mahal harganya.  Pada intinya, ukuran terpal plastik sangat berhubungan erat dengan ukuran luas dan kedalaman kolam yang akan kita buat.

b. Bambu atau Kayu untuk Kerangka Kolam

Bahan bambu atau kayu digunakan untuk kerangka kolam, bahan lain yang bisa dipakai adalah besi, namun tentunya modal yang harus disiapkan lebih tinggi.

Pilihan bahan dan ukuran bambu atau kayu tidak ada ketentuan pasti.  Tapi yang pasti, untuk setiap sudut (untuk patok atau tiang utama) diperlukan ukuran yang lebih besar agar lebih kuat.  Misalnya menggunakan bambu berdiameter minimal 7 cm atau balok kayu ukuran 6 x 8.

c. Bambu atau Papan Kayu untuk dinding dan dasar kolam penahan terpal

d. Paralon

Paralon diperlukan untuk mengatur ketinggian air (sistem overflow) dan untuk mempermudah pada saat membuang air kolam. Ukuran paralon yang dipakai biasanya diameter 2″ atau 3″, tergantung pada luas kolam anda, mungkin saja anda menggunakan diameter 4″ karena kolam cukup luas.

e. Pagar dan atap kolam

Ini diperlukan untuk melindungi kolam dari hama atau binatang.  Bahannya dapat anda pilih, memakai plastik, waring atau bahan-bahan yang tersedia disekitar anda.

Pembuatan Kolam Terpal

Tidak diperlukan keahlian secara khusus pada saat membuat kolam terpal.  Namun apabila anda kurang yakin, anda bisa melibatkan tukang kayu, terutama pada saat pembuatan kerangka kolam.  Secara garis besar ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan :

a. Persiapkan peralatan pertukangan, seperti gergaji, palu, ketam, paku dan golok.

b. Pemilihan tempat.

Pastikan lokasi mudah dijangkau atau dekat sumber air, atau setidaknya air dapat dialirkan ke kolam melalui bantuan selang air.

c. Lahan atau tempat yang akan digunakan harus bersih dari benda-benda tajam seperti batu, dan lakukan pembersihan dari rumput dan pepohonan yang terlalu rimbun yang dapat mengganggu masuknya sinar matahari.

d. Beri tanda ukuran kolam yang akan dibuat, misalnya memakai benang atau sejenisnya. Apabila akan membuat lebih dari satu kolam, perhatikan jarak antar kolam.  Jarak antar kolam ini diperlukan untuk mempermudah pada saat mulai pemeliharaan maupun panen.

e. Pasang patok atau tonggak utama dari balok kayu atau bambu di setiap sudut.  Untuk memperkuat kolam, tambahkan  beberapa patok di setiap sisi dengan jarak per 1 meter.

f. Memasang kerangka dinding dan dasar kolam. Lakukan pemotongan kayu kaso atau bambu sesuai ukuran kolam untuk membentuk rangka.  Dasar kolam dibuat lebih tinggi agar terpal plastik tidak langsung bersentuhan dengan lantai tanah atau tembok.  Gunakan paku 5 atau 7 untuk menyambung bahan membentuk kerangka.  Posisi lantai atur miring ke salah satu sisi, tujuannya agar pada saat panen, menguras dan membersihkan air kolam lebih mudah.

g. Memasang dinding dan lantai kolam. Gunakan papan kayu atau potongan bilah bambu untuk disusun membentuk dinding dan lantai.  Usahakan papan atau bilah bambu permukaannya halus, hal ini untuk mencegah terpal rusak atau sobek karena permukaan dinding atau lantai kasar atau tajam.

h. Letakkan paralon beserta knee  secara horisontal pada sisi kolam terendah, tujuannya untuk pembuangan air.

i.  Memasang terpal.  Lakukan pemasangan terpal plastik dengan baik, hati-hati dan rapi cukup rapat ke permukaan dinding dan lantai.  Bagian sudutnya kemudian dilipat dengan rapi.  Pada bibir kolam atas, terpal bisa dijepit dengan papan atau bilah bambu agar terlihat rapi dan posisi terpal stabil.

j. Pada bagian paralon pembuangan, lubangi terpal dengan bentuk silang atau bintang agar dapat dibuat sambungan menggunakan knee atau sambungan paralon.

k. Isi kolam terpal yang sudah jadi tersebut dengan air kurang lebih 1/3-nya, periksa apakah ada yang bocor di bagian dasar  atau dinding bawah kolam.  Perbaiki dan lakukan penambalan bila terjadi kebocoran.  Lanjutkan pengisian dengan air sambil terus diperiksa dan amati, baik kebocoran maupun kekuatan kolam terhadap tekanan air.

l.  Kolam siap dipakai

Demikian tulisan singkat mengenai budidaya ikan lele dengan menggunakan kolam terpal. Mengenai sistem pemeliharaan secara ringkas, dapat anda lihat di tulisan pertama DI SINI. Mengenai pemeliharaan yang agak detail berikut jenis hama, terutama penyakit pada ikan lele akan kita bahas pada tulisan berikutnya.  Semoga bermanfaat…

 

 

Daftar Pustaka :

– Khairuman, Toguan Sihombing, & Khairul A, Budidaya Lele Dumbo di Kolam Terpal, Agromedia 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

17 thoughts on “Peluang Usaha Ternak Lele dengan Kolam Terpal (seri Ternak Lele – bag.2)

    1. dikdiktaufik Penulis Tulisan

      untuk kedalaman kolam, biasanya patokan kolam tersebut dapat diairi dengan ketinggian air 60-100 cm, memiliki tanggul yang kokoh agar tidak mudah jebol, tidak ada kebocoran, ada saluran masuk-keluar air, dan posisi dasar agak miring ke arah pembuangan air.

      Balas
  1. abdul rahman awi

    Saya tertarik usaha ini namun masalahnya pemasaran lele di sulsel masih minim mohon masukannya trims

    Balas
  2. dhika

    maaf mau tanya untuk pemasangan paralon pembuangannya bagaimana ya? bila kolam di lubangi apa tidak berisiko kolam akan bocor?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s