HAMA DAN PENYAKIT YANG SERING MENYERANG JAHE (Bag. 2)


Tulisan berikut adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya Hama dan Penyakit yang Sering Menyerang Jahe (Bag.1)Bagian ke-2 ini pun dapat dikatakan penting untuk kita ketahui, karena apabila anda serius ingin menggeluti budidaya tanaman jahe, ya jangan nanggung untuk lebih kenal dekat dengan penyakit lainnya yang akan diulas pada bagian ke-2 ini.  Ok kita mulai saja ya…

B. Serangan Akibat Nematoda Parasit

Terdapat beberapa jenis Nematoda parasit di Indonesia yang berasosiasi (bergabung, berhubungan – red) dengan tanaman jahe, di antaranya adalah Meloidogyne incognita, Meloidogyne javanica, Radopholus similis, Pratylenchus coffeae, Tylenchus sp., Helicotylenchus sp., Rotylenchus sp., Aphelenchus sp., Ditylenchus sp., Pratylenchus sp. (Djiwanti 1989; Mustika 1991; 1992).

Di antara nematoda tersebut, jenis nematoda yang paling sering menyerang dan merugikan adalah nematoda buncak akar Meloidogyne spp. dan nematoda pelubang akar R. similis; karena tingkat populasi dan frekuensi keberadaannya cukup tinggi. Di India, M. incognita and R. similis merupakan spesies yang penting pada jahe (Sheela et al. 1995).

Di daerah negara Fiji, serangan R. similis pada jahe dapat mengurangi produksi sebesar 40% (Williams 1980); sedangkan Meloidogyne spp. di Queensland dilaporkan dapat mengurangi hasil sampai 57% (Pegg et al. 1974). Selain mengurangi produksi, serangan nematoda juga dapat menurunkan kualitas dan menghambat ekspor. Pada tahun 1991, ekspor jahe Indonesia ke Jepang dan USA ditolak karena rimpangnya mengandung R. similis (Suparno 1996; Puskara 1994). Nah, lho…

Gambar C berikut menunjukkan rimpang yang terkena serangan nematoda Busuk rimpang:

Di samping masalah tersebut di atas, kehilangan hasil jahe yang lebih besar dapat terjadi apabila bakteri Ralstonia solanacearum terdapat bersama-sama dengan nematoda R. similis atau Meloidogyne app., dimana jumlah tanaman layu meningkat dan terjadinya layu lebh cepat (Mustika dan Nurawan 1992). Luka akibat tusukan stilet nematoda mempermudah infeksi bakteri patogen ke dalam jaringan akar dan rimpang (Mustika 1992). Alamaak…

1. Tanda dan Gejala Serangan Nematoda

Nematoda buncak akar (Meloidogyne spp.) menyebabkan puru atau benjolan dan busuk pada akar dan rimpang jahe (Huang 1966; Shah dan Raju 1977).  Anda perhatikan Gambar C di atas, di dalam setiap benjolan atau bintil terdapat ratusan atau bahkan ribuan telur, nimfa dan dewasa nematoda.  Hiiii…….

Perhatikan Gambar D dan E berikut Copy_5_of_New_Picture:

Tanaman yang terinfeksi berat akan kerdil, daun menguning dengan nekrosis pada bagian tepi daun.
Tanaman yang terinfeksi R. similis menjadi kerdil, vigor menurun dan bercabang (tillering). Daun paling atas menguning dengan ujung daun seperti terbakar. Copy_6_of_New_PictureTanaman cenderung lebih cepat tua dan kering. Infeksi awal terlihat sebagai luka-luka kecil basah/berair yang cekung, dangkal (Vilsoni et al. 1976; Sundararaju et al. 1979). Infeksi parah menyebabkan rimpang menjadi busuk, kering, berwarna colkat dan adanya luka-luka atau berlubang (Mustika 1991). Bila rimpang terserang dipotong melintang tampak luka-luka berwarna cokelat pada batas antara bagian rimpang sakit dengan yang masih sehat. Dengan menggunakan mikroskop, biasanya dari bagian yang sakit tersebut ditemukan R. similis. Gejala serangan R. similis pada rimpang atau akar tidak mudah dikenali, tetapi dengan pengamatan yang cermat akan terlihat berupa bintik-bintik berwarna hitam.

2. Perkembangan dan Penyebaran Penyakit

Ternyata pemirsa, Nematoda parasit tersebut di atas hampir ditemukan di setiap pertanaman jahe di Indonesia, antara lain Bengkulu, Jawa Barat dan Sumatra Utara (Mustika 1991). Penyebaran nematoda dapat terjadi melalui tanah, alat-alat pertanian, migrasi alamiah dan aliran air hujan. Penyebaran yang lebih luas lagi terjadi melalui rimpang yang terinfeksi, yang kemudian dijadikan benih.

Pengendalian nematoda parasit pada jahe pun ternyata menjadi cukup sulit, karena selain dapat terbawa benih, air dan tanah, nematoda terutama nematoda buncak akar Meloidogyne spp. mempunyai kisaran inangnya cukup luas dan persisten di dalam tanah. Selain pada jahe, R. similis dan Meloidogyne spp. juga menyerang tanaman temu-temu lainnya, seperti lempuyang hitam (Z. ottensii), lengkuas (Alpinia galanga), kunyit (C. domestica), temulawak (C. xanthorrhiza), temu putih (C. zedoaria) dan kapolaga (Elettaria cardamomum).

Di dalam tanah, R. similis bertahan hidup selama 6 bulan (Dropkin, 1980). R. similis dapat bertahan selama 3 bulan sampai 1 tahun dalam rimpang jahe yang disimpan pada keadaan suhu kamar. Pada inang yang cocok, siklus hidup R. similis berlangsung selama kurang lebih 3 minggu untuk satu generasi. Dalam biakan potongan wortel siklus hidup R. similis adalah 35 hari pada suhu 20 – 30° C dengan suhu optimumnya 27° C (Mustika 1990).

R. similis adalah nematoda endoparasit migrator, setelah masuk ke dalam akar, nematoda berpindah-pindah diantara jaringan akar dan rimpang, makan dan berkembang biak (Williams dan Siddiqi 1973; Vilsoni et al. 1976) dan menimbulkan saluran-saluran infeksi yang besar atau berongga di dalam rimpang. Sedangkan Meloidogyne spp., setelah masuk ke dalam jaringan akar atau rimpang, nematoda menetap (sedentary) dan infeksinya menyebabkan puru atau benjolan pada akar atau rimpang dan di dalam setiap benjolan atau bintil terdapat ratusan atau ribuan telur, nimfa dan dewasa nematoda (Huang 1966; Shah dan Raju 1977).  Penularan penyakit terutama melalui rimpang yang telah mengandung (terinfeksi) nematoda parasit yang kemudian dijadikan benih.  Makanya anda harus berhati-hati lah pada saat melakukan seleksi benih jahe.

3. Pengendalian/penanggulangan

Pengendalian nematoda parasit jahe dapat dilakukan secara terpadu melalui pemilihan benih rimpang sehat, pemulsaan, perlakuan air panas pada benih rimpang, penggunaan bahan pestisida kimia maupun pestisida organik seperti PHEFOC dan pemanfaatan musuh alami nematoda parasit jahe.

a. Pemilihan benih rimpang sehat

Seleksi benih rimpang secara ketat sebelum anda menyesal kemudian.  Rimpang yang terinfeksi nematoda merupakan sumber utama dari penyebaran nematoda yang lebih luas di lapangan. Cara terbaik untuk mengendalikan penyakit oleh nematoda adalah dengan penggunaan rimpang sehat bebas nematoda untuk bahan tanaman dan menyingkirkan rimpang-rimpamng benih yang menunjukkan gejala luar terserang nematoda.  Perhatikan ciri-cirinya ya, sudah diulas tuh di atas…

b. Pemulsaan

Anda sudah tahu Pemulsaan itu apa ? Pemulsaan adalah : Teknik untuk menjaga tetapnya suhu tanah di sekitar akar tanaman, menahan uap air di tanah, mencegah erosi, dan menghilangkan tumbuhnya gulma dan penyakit. Mulsa daun-daun hijau sebanyak 2,5 kg/m2 seperti daun mahaneem (Melia azadirachta), karanj (Pongamia glabra) dan mangga (Mangifera indica).  Mulsa diaplikasikan pada saat tanam dan diulang selama masa pertumbuhan, selain dapat meningkatkan tingkat pertumbuhan, jumlah tillers dan hasil, juga dapat bersifat nematisidal (Das 1999). Di Queensland, pemberian serbuk gergaji dengan ketebalan 5-7,5 mm dapat menekan perkembangan nematoda (Pegg et al. 1974).

c. Perlakuan air panas

Selain cara di atas, perlakuan air hangat pada rimpang jahe dapat menekan serangan nematoda di pertanaman (Pegg et al. 1974). Perlakuan air panas 50ºC selama 10 menit pada rimpang-rimpang benih sebelum tanam, efektif mengurangi jumlah puru per rimpang sebesar 96,17% (Djiwanti dan Balfas 2010).  Nah, cara ini mudah diaplikasikan, murah dan mudah.

d. Penggunaan pestisida

Penggunaan pestisida kimia carbofuran maupun pestisida organik seperti PHEFOC ternyata dapat menekan populasi  parasit nematoda. Aplikasi penggunaan pupuk bokashi (yang sudah mengandung PHEFOC) dan penyemprotan tanaman secara teratur dengan PHEFOC effektif untuk menekan populasi nematoda ini.

e. Pengendalian secara hayati

Hasil penelitian terakhir menunjukkan formulasi jamur rhizobakteri Pasteuria penetrans dapat menekan serangan dan populasi M. incognita dan R. similis pada tanaman jahe (Mustika, 1998; Harni dan Mustika, 2000).  Jamur penjerat nematoda (Arthrobotrys sp., Dactylaria sp. dan Dactylella sp.) dibiakkan pada media jagung dan diaplikasikan pada jahe untuk pengendalian nematoda Meloidogyne spp. (Harni dan Mustika 2000).  Yang ini sih agak susah ya aplikasinya…

f. Pengendalian secara Terpadu

Pengendalian secara terpadu semua usaha pencegahan dan penanggulangan, yaitu menggabungkan usaha-usaha di atas dan melakukan teknis budidaya secara benar seperti di tulisan tentang Budidaya Jahe sebelumnya, tentunya akan mendatangkan hasil yang lebih optimal.

C.  Penyakit Bercak Daun pada Jahe

Penyakit bercak daun jahePenyebab gejala bercak daun jahe adalah cendawan parasit tanaman. Pada kondisi tertentu, misalnya kelembaban yang tinggi, atau menanam jahe di daerah yang berlembah sehingga tanaman menjadi agak ternaungi, serangan cendawan pada daun menjadi masalah yang serius. Beberapa cendawan yang dilaporkan ditemukan menyerang daun pertanaman jahe di Indonesia adalah: Cercospora (Boedjin 1960; Semangun 1992), Phyllosticta (Semangun 1992; Rachmat 1993a), Phakopsora (Boedijn 1960; Rachmat 1993b; Wahyuno et al. 2003) dan Pyricularia sp. (Siswanto et al. 2009). Hingga saat ini, pengetahuan mengenai ekobiologi cendawan-cendawan tersebut masih sangat terbatas.
Hasil survey OPT jahe yang dilakukan bersama Ditjen Perlindungan Hortikultura di tiga lokasi di Jawa dan Sumatera tahun 2008, berdasarkan model gejala yang terlihat ada indikasi variasi jenis cendawan yang dominan di tiap lokasi yang dikunjungi (Siswanto et al. 2009). Kondisi lingkungan, umur tanaman dan jenis jahe yang ditanam mempengaruhi kerusakan dan jenis cendawan yang dominan di suatu daerah.

1. Beberapa Gejala dan Penyebab Serangan Bercak Daun

a. Phyllosticta sp.

Dari empat jenis cendawan tersebut di atas, gejala bercak putih yang merata pada permukaan daun dianggap gejala yang paling merusak dan merugikan tanaman. Serangan di awal pertumbuhan dapat menyebabkan produksi turun karena banyak daun yang tidak dapat berfungsi secara optimal. Gejala dapat ditemukan pada daun yang ada di bagian atas hingga di bagian tengah. Infeksi diduga terjadi saat daun baru pada awal membuka penuh. Kobayashi et al. (1993) mendapatkan struktur cendawan yang diidentifikasi sebagai Phyllosticta pada permukaan bagian yang berwarna putih. Siswanto et al. (2009) mendapatkan gejala tersebut di tiga kabupaten yang dikenal secara tradisional sebagai sentra produksi jahe (Boyolali, Jawa Tengah; Sukabumi, Jawa Barat dan Kepahiang, Bengkulu).

b. Pyricularia sp.

Cendawan Pyricularia sebelumnya tidak dipernah dilaporkan keberadaannya di Indonesia, meskipun sudah pernah dilaporkan di Jepang (Hashioka 1971, Kotani dan Kurata 1992), Thailand (Bussaban et al. 2003) dan Australia (Clark dan Warner 2000). Siswanto et al. (2009) mendapatkan gejala khas Pyricularia yaitu nekrosa dengan bagian tengah berwarna putih dan tepi berwarna cokelat/gelap di Boyolali, Kepahiang dan dan Sukabumi. Sepintas gejala yang ditimbulkan mirip dengan yang ditimbulkan oleh Phyllosticta, tetapi bagian tepi dari jaringan nekrosa yang terserang Pyricularia cenderung berwarna kuning (Lihat Gambar F di atas).

c. Cercospora zingiberi

Bercak daun JaheGejala serangan Cercospora umumnya berupa bercak yang luas denga bagian tepi berwarna kuning pada awalnya. Pada kondisi ideal, yaitu kelembaban dan suhu tinggi, bercak dapat melebar dengan bagian tepi berwarna gelap dan dapat dibedakan dengan bagian yang masih sehat. Pada stadia yang lanjut, terdapat titik-titik warna hitam yang tersebar secara acak pada permukaan jaringan yang mengalami nekrosa (Lihat Gambar G). Titik-titik tersebut adalah tangkai spora (konidiofor) dan spora (konidia) dari Cercospora. Siswanto et al. (2009) juga melaporkan keberadaan Cercospora di tiga lokasi penanaman jahe yang dikunjungi (Boyolali, Kepahian dan Sukabumi). Cercospora umumnya ditemukan pada daun yang telah terbuka penuh, dan jarang ditemukan pada daun yang masih muda. Pada kondisi lingkungan yang lembab serangan Cercospora dapat terjadi pada hamparan yang luas sehingga dikhawatirkan dapat menurunkan produktivitas per satuan rumpun.

d. Phakopsora elletariae

Phakopsora menyebabkan bercak daun bergaris. Gejala banyak dijumpai pada daun yang telah terbuka, dan tanaman yang tumbuh di tempat yang ternaungi atau rumpun-rumpun jahe yang tumbuh rapat. Phakopsora juga dapat ditemui pada semua pertanaman jahe di Indonesia,
tetapi kerusakan yang ditimbulkan tidak sebesar kedua jamur di atas sehingga sering diabaikan dalam pengamatan di lapang. Siswanto et al. (2009) hanya mendapatkan jahe yang terserang Phakopsora di Sukabumi, Jawa Barat dan Kepahiang, Bengkulu; dan tidak dijumpai di Boyolali, Jawa Tengah.

2.  Eko-Biologi Cendawan Penyebab Bercak Daun

a. Penyebaran

Cendawan penyebab bercak daun pada jahe disebarkan melalui angin. Lingkungan yang lembab dan berangin merupakan kondisi yang ideal bagi penyebaran konidia melalui udara atau aliran air yang terdapat di permukaan daun. Penyebaran melalui aliran udara merupakan cara yang umum bagi keempat cendawan ini. Lapisan lendir pada permukaan konidia Phyllosticta merupakan indikasi bahwa ia dapat tersebar melalui aliran air, selain untuk membantu menempel pada permukaan daun.

Penyebaran melalui benih rimpang masih berupa dugaan yang didasarkan pada seringnya bercak daun Phyllosticta ditemukan pada tanaman yang masih sangat muda (± 1-2 bulan) di lapang, khususnya di daerah endemik penyakit bercak daun.

Penyebaran melalui udara dari sumber-sumber inokulum berupa jaringan tanaman yang telah terinfeksi dan gugur di atas tanah, atau berasal dari lahan lain di sekitar diduga lebih dominan sebagai sumber inokulum di lapang. Phyllosticta dapat bertahan dalam bentuk tubuh buah piknidia yang terbentuk di atas jaringan jahe yang telah terinfeksi.

b. Kisaran inang

Cercospora, Phyllosticta, dan Phakopsora merupakan cendawan patogen yang mempunyai karakteristik kekhususan inang yang tinggi. Kisaran inang cendawan-cendawan tersebut umumnya sangat terbatas hanya pada genus tanaman yang sama. Kekhususan inang yang tinggi menjadi dasar pertimbangan mengembangkan varietas tahan atau melakukan sanitasi dan eradikasi secara berkala dan terukur untuk mengurangi sumber inokulum.

3. Pengendalian

Sifat jamur ini tular udara membuat pengendalian secara individu kurang efektif, karena sumber inokulum (penular) dapat berasal dari tanaman jahe yang berada di tempat lain. Di lapangan secara sepintas jahe merah relatif toleran terhadap serangan patogen penyebab bercak daun baik dari jenis Phyllosticta maupun Pyricularia, tetapi sampai saat ini belum ada varietas jahe yang tahan terhadap bercak daun.

a. Kultur teknis

Tindakan kultur teknis tetap dianjurkan untuk menekan sumber inokulum yang berasal dari salah satu lahan, tindakan tersebut antara lain meliputi

  • sanitasi dengan membuang sisa-sisa tanaman yang telah terserang,
  • melakukan pemupukan yang benar untuk meningkatkan ketahanan
  • mengurangi dampak kerusakan,
  • mengatur kelembaban dengan jarak tanam
  • mengurangi naungan apabila ada.
  • Tindakan pengolahan tanah untuk memperlancar drainase juga dapat dilakukan untuk mengurangi kelembaban udara atau atau
  • memberi mulsa untuk mengurangi penguapan yang berlebih.

b. Fungisida

Fungsida bersifat kontak serta fungisida dengan bahan aktif minyak cengkeh dan serai dapur juga efektif saat diuji di laboratorium (Wahyuno et al. 2009). Di lapangan, waktu aplikasi dan kemampuan fungisida bertahan pada permukaan daun menjadi krusial dalam keberhasilan pengendalian bercak daun khususnya di daerah dengan curah hujan tinggi. Di beberapa daerah, petani banyak tidak melakukan aplikasi fungsida secara teratur karena mahalnya harga fungisida.  Pola budidaya dengan aplikasi PHEFOC sebagai fungisida organik akan sangat membantu menangani masalah ini.

Pengetahuan fisiologi tanaman khususnya saat terjadinya pengisian rimpang dan waktu aplikasi sedang dalam tahap evaluasi. Tanaman jahe di bawah usia kurang dari lima bulan merupakan periode yang peka terhadap serangan bercak daun. Di waktu mendatang aplikasi fungisida selain memperhatikan dosis dan interval, juga perlu memperhatikan fisiologi tanaman.

c. Pengendalian Terpadu

Pengendalian terpadu dalam budidaya jahe masih dalam tahap konsep, karena beberapa komponen pengendaliannya masih dalam tahap pengembangan. Hasil skrining yang dilakukan di rumah kaca, sampai saat ini masih belum ada aksesi jahe yang tahan terhadap bercak daun Pyricularia. Pengendalian terpadu yang dapat dianjurkan untuk menekan serangan bercak daun adalah melakukan penanganan dan seleksi benih, melakukan pengolahan tanah untuk membenamkan sisa-sisa daun jahe terserang, mengatur jarak tanam, pemupukan sesuai aturan, sanitasi apabila ada tanaman terserang, monitoring secara rutin dan aplikasi fungisida apabila diperlukan.

D.  Penyakit Busuk Rimpang dan Penyakit Kuning

1.  Tanda dan Gejala serta Penyebab

Busuk rimpang pernah merupakan penyakit yang ditemukan dalam jumlah terbatas. Di lapangan, gejala yang terlihat pada bagian tanaman yang terdapat di permukaan tanah berupa daun menguning dan tersebar secara acak dalam populasi yang relatif terbatas. Bagian yang terserang adalah rimpang yang sudah cukup dewasa, dan biasanya sulit dibedakan dengan layu bakteri. Cara yang biasa dilakukan untuk mengenal gejala ini adalah mencabut batang yang menunjukkan gejala. Pada busuk rimpang batang relatif masih kuat tertahan pada rimpang dan tidak berbau, sebaliknya untuk busuk rimpang yang disebabkan bakteri.

Penyebab busuk rimpang diduga disebabkan oleh beberapa jenis cendawan, antara lain kelompok Rhizoctonia sp. (Mulya dan Oniki 1990). Miftakhurohmah dan Noveriza (2009) mendapatkan beberapa cendawan dari rimpang jahe, dan Fusarium sp. relatif dominan selain jamur-jamur kontaminan yang umum yaitu Aspergilus, Rhizhopus dan Penicillium. Semangun (1989, 1992) dan Soesanto et al. (2003) dalam Soesanto et al. (2005) menyatakan Fusarium oxysporum Schlecht f.sp. zingiberi Trujillo sebagai penyebab utama busuk rimpang jahe.

Di Indonesia cendawan Pythium belum pernah dilaporkan, tetapi di India dan Australia cendawan Phytium merupakan jenis yang dominan menyebabkan busuk rimpang jahe dan dapat menimbulkan kerusakan secara luas khususnya pada pertanaman jahe di dataran tinggi (Dobroo 2005). Demikian juga yang terjadi di Australia.

2. Pengendalian

Pengendalian yang dianjurkan adalah dengan menggunakan benih jahe yang sehat dan perendaman ke dalam fungisida yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran patogen yang terbawa benih di lapang. Mengurangi lalu-lalang di pertanaman jahe di lapangan untuk menghindari penyebaran,  monitoring secara berkala disertai sanitasi perlu dilakukan untuk menghindari penyebaran lebih luas.  Ada baiknya untuk pengendalian ini anda baca lagi tentang Budidaya Jahe DI SINI.

Demikian ulasan mengenai Hama dan Penyakit yang sering Menyerang Jahe.  OPT ini perlu kita ketahui agar kita dapat semaksimal mungkin meminimalisir akibatnya sehingga dapat semaksimal mungkin mendapatkan hasil produksi jahe yang kita budidayakan.

Selamat mencoba Budidaya tanaman Jahe dan semoga berhasil !
DAFTAR PUSTAKA

Sumber bahan tulisan ini (Bagian 1 dan 2) banyak saya ambil dan kutip dari : Hasil Penelitian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (S. Yuni Hartati, S. Retno Djiwanti, D. Wahyuno dan D. Manohara) berjudul : PENYAKIT PENTING PADA TANAMAN JAHE

4 thoughts on “HAMA DAN PENYAKIT YANG SERING MENYERANG JAHE (Bag. 2)

  1. Ping balik: Menanam Jahe Merah | daryakhtar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s